Kenapa ragu dengan keputusan PKS pilih SBY..?? (Email)

,

Kelihatannya menjelang detik-detik pemilihan umum, para capres dan cawapres mulai menggunakan dan menghalalkan segala macam cara untuk memposisikan diri mereka di mata para rakyat, para pemilih. Ada yang menggunakan cara yang intelek dengan cara berdebat, ada juga yang menggunakan cara intimidasi bahkan dengan cara menjelek-jelekan capres dan cawapres yang lain.

Pagi ini saya mendapat email dari seorang rekan, yang isinya menjelaskan dari sisi PKS, kenapa kita tidak perlu ragu untuk memilih SBY.

Subject dari email tersebut adalah “Kenapa ragu dengan keputusan PKS pilih SBY..??

Email tersebut berasal dari Muhammad Iman, dari milis Family UI.

Berikut adalah isi dari email tersebut, tanpa ada proses editor apapun dari sini, biar semua bisa menilai.

Kenapa ragu dengan keputusan PKS pilih SBY..??
Bagikan
oleh Muhammad Iman (catatan) Sab pukul 20:16
tulisan bagus nih dari milis family ui..

Assalamualaikum Wr. Wb.
Saya membutuhkan cukup waktu untuk bisa memahami alasan DPP PKS memilih tetap berkoalisi dengan SBY-Boediono. Itu, karena tadinya saya mengharapkan dan menyangka PKS akan memilih JK. Namun, setelah jelas sikap DPP sedikit-demi- sedikit saya menemukan jawabannya. Semoga apa yang saya fahami ini tidak semuanya salah.

Pertama, PKS bukan satu-satunya partai Islam yang memilih SBY. Disana ada koalisi seluruh partai Islam dan berbasis massa Islam yaitu PKB, PPP dan PAN. Jadi, ini kemaslahatan pertama yaitu mendahulukan koalisi partai Islam dibanding koalisi sekuler termasuk yang mendukung JK. Mana yang harus kita utamakan, kumpulan partai Islamis atau koalisi partai sekuler?

Kedua, kalau misalnya JK berasal dari partai Islam, atau ada indikasi meyakinkan dia mendukung Islam, misalnya memiliki keberpihakan dalam kasus Ahmadiyah, RUU APP, terorisme Islam dan lain-lain yang ada kepentingan Islam disana, saya setuju pilihan JK disebut sesuai dengan syariah Islam. Kalau indikasinya “hanya” jilbab istrinya dan shalat di masjid Sunda Kelapa karena mau jadi capres, itu tidak cukup. Kenapa? Dulu, waktu ribut majalah Playboy di Indonesia , saya ingat betul JK bilang, ”Bagaimana caranya menghentikan Playboy? Kita tidak punya instrumennya. ..”. JK terus terang menolak menghentikan Playboy. Lalu, apa artinya JK yang menjilbabi istrinya tapi tidak bisa mencegah anak-anak bangsa dinegeri Islam terbesar ditelanjangi oleh Playboy? Tentu saja, terbitnya ikon porno itu kini bukan sepenuhnya salah JK. Tapi, dimanakah aspek kesyariahan JK dengan komentar dia itu? FPI tanpa menggunakan perangkat hukumpun sanggup mengusir Playboy dari Jakarta dan membuat umat Islam sadar tentang bahaya majalah bugil itu dibanding JK. Saya tidak menyalahkan bagi yang mau memilih JK dan semoga JK ingat masjid tidak hanya karena mau jadi capres. Tapi, untuk mengatakan bahwa JK lebih sesuai dengan syariah Islam, kita butuh indikasi yang lebih banyak dan komprehensif. Baik SBY, JK apalagi Mega, tidak ada yang syar’i. Saya kira, kita harus lebih berhati-hati melegitimasi sesuatu dengan predikat syar’i. Ini harus diklarifikasi agar tidak muncul anggapan

PKS melarang memilih sesuai dengan syariah Islam…

Ketiga, ini adalah alasan paling penting. Keputusan memilih SBY dibuat melalui proses Syura. Apa artinya Syura? Artinya, ada 99 kader terbaik PKS yang duduk bersama untuk mengkaji dari segi syariah, politik, ekonomi, kebudayaan dan lain-lain dengan dukungan kepakaran, data, survey, analisa, pengalaman dan sistem untuk menetapkan dukungan terhadap SBY. Keputusan ini dikokohkan kembali dengan keputusan pakar-pakar Islam di Dewan Syariah. Dengan begitu, kesalahan makin mantap diminalisir. Jika kita hendak menolak keputusan syura ini, sepatutnya kita juga mendasarinya dengan

kapasitas lebih tinggi atau setingkat. Jika hanya pertimbangan individu, saya khawatir disana ada lebih banyak yang kita tidak tahu daripada yang kita tahu. Kita perlu bertanggungjawab dalam pilihan kita, sebab itu semua akan dimintakan pertanggungjawaban kita di mahkamah Allah pada yaumil akhir nanti.

Ijinkan saya bertanya, saat kita menolak SBY dan memilih JK : sudahkah kita melakukannya—misalkan dengan — proses pengumpulan sample data,

survey, penelitian mendalam, analisa komprehensif dengan fikiran dan hati tenang-jernih tanpa emosi, pengkajian kaedah-kaedah fiqih siyasi yang diiringi shalat tahajjud, shalat istikharah dan munajat kepada Allah seperti yang dilakukan oleh Majlis Syura dan Dewan Syariah PKS? Jangan-jangan kita hanya merujuk berdasar berita dan rumor di mass media dan fikiran selintas saja? Obrolan di kantor? Apakah semua isi mass media dan imej JK yang dikarang tim suksesnya itu sesuai dengan kenyataan? Siapa yang menjamin? Dapatkah itu menyamai kualitas data, pengalaman politik dan kapasitas 99 anggota Majlis Syura? Kalaupun kita sudah melakukan itu semua, paling tinggi, itukan kita lakukan sendirian… Bisakah kapasitas dan analisa kita menyamai 99 anggota

Majlis Syura plus Dewan Syariah? Pantas saja, Allah menyuruh kita menggunakan mekanisme Syura dalam pengambilan keputusan. Ternyata, jika keputusan dibuat sendiri kelemahannya jauh lebih banyak. Tentu saja keputusan Majlis Syura bisa saja salah. Mereka bukan kumpulan malaikat dan nabi. Namun, jika Majlis Syura saja bisa salah, tentu kita yang sendirian lebih pantas untuk salah. Saya rasa, kearifan seperti ini perlu kita gunakan saat mengkritik PKS dengan keputusan-keputusan politiknya.

Keempat, mungkin ini pendapat agak asing, tapi bisa dipertanggungjawabk an. Dalam memilih pemimpin, aspek kesesuaian dengan syariah tidak hanya

didasari alasan kesalehan orang yang kita pilih. Belum tentu orang yang lebih saleh itu, pasti lebih benar dalam memimpin (ini dengan memisalkan JK lebih saleh dari SBY). Imam Ahmad berkata, ”Seorang panglima yang saleh tapi tidak mengerti perang, kesalehannya hanya untuk dirinya dan ketidaktahuannya tentang perang berakibat fatal bagi umat Islam. Tapi, seorang panglima tidak saleh yang menguasai ilmu perang, ketidaksalehannya hanya siksa untuk dirinya sementara pengetahuan perangnya jadi maslahat bagi umat Islam”. Pendapat ini didukung pula oleh Ibn Taimiyah. Menurut keduanya, bisajadi pemimpin yang kurang saleh lebih berhasil disamping pemimpin saleh tapi lemah dan tidak punya strategi (Ibn Taimiyah, al-Siyasah al-Syar’iyah, Beirut : Dar al-Afaq, 1983, cet.1, hal. 16-17). Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya Allah, akan memperkuat agama ini (meski) melalui tangan orang fajir (fajir: pelaku dosa, lawan dari saleh). (HR. Al-Bukhari, Kitab al-Maghazi, Bab Ghazwah Khaibar, no. 3882 dan Imam Ahmad, Musnad Abi Hurairah, hadits no. 7744).

Jadi, Imam Ahmad, Ibn Taimiyah, Imam al-Bukhari dan lain-lain telah menyimpulkan bahwa kemenangan dakwah bisa juga diperoleh melalui perantara orang-orang bukan shaleh dan fasik. Tentu, orang fajir dan fasik yang bagaimana dulu….tentu tidak boleh juga sembarangan, kan ? Dalam Sirah Nabawiyah, ada riwayat bahwa Rasulullah SAW meminta bantuan dan perlindungan pada pemimpin musyrik al-Muth’im bin ‘Adiy atau raja Kristen Najasyi, beliau juga berkoalisi dengan kabilah Khuzaah yang banyak dari mereka masih musyrik dan Rasulullah SAW berkoalisi dalam treaty dengan Yahudi kafir dalam piagam Madinah yang populer itu, atau meminta tolong pada Abdullah bin Uraiqith, penunjuk jalan yang masih musyrik saat berhijrah ke Madinah.

Meski begitu, pemimpin yang paling tepat adalah yang memiliki kesalehan dan kekuatan strategi sekaligus. Tapi, yang seperti ini menurut Ibn

Taimiyah sangat jarang. Kadang dia saleh tapi dia terhalang oleh faktor luar untuk memberikan kepemimpinan yang benar. Maka, menurut beliau, pemilihan seorang pemimpin, harus mempertimbangkan aspek sekomprehensif mungkin, bukan hanya sisi pribadi dia sendiri.
Kelima, ditakdirkan JK lebih saleh dari SBY, kita bertanya, bagaimana dengan Golkar? Saya berpendapat, salah satu keuntungan Pemilu 2009 yang

jelas adalah berhasil ”dihancurkannya’ ‘ suara partai terbesar penyokong kerusakan di Indonesia yaitu PDIP dan Golkar. Kita tidak boleh lupa. Tahun 2008 pasca fenomena PKS di DKI, Depok, Jabar dan Sumut, untuk pertamakalinya PDIP dan Golkar duduk bersama menyatakan Deklarasi Palembang untuk membendung apa yang mereka sebut bahaya sinkretisme terhadap keutuhan NKRI. Orang terkejut untuk pertamakali PDIP-Golkar bisa duduk bersama, dan ternyata kepentingannya sama-sama hendak melawan Islam. Jadi, habisnya dua partai ini di tahun 2009 adalah prestasi yang harus kita syukuri.

Dengan kemenangan SBY di Pilpres mendatang, maka ”kehancuran’ ‘ PDIP dan Golkar sebagai pilar korupsi dan mega-kejahatan Indonesia itu bisa makin ”disempurnakan’ ‘. Sebaliknya, kalau JK yang menang apa tidak mungkin Golkar mengkonsolidasikan kekuatan dan come back lagi? Saya bertanya-tanya, bagaimana kita bisa ”terbius” dengan ”kesederhanaan’ ‘ dan ”kebersahajaan’ ‘ JK-Wiranto untuk bersama-sama melupakan kejahatan

Golkar? Jangan-jangan, kita terjebak dalam strategi mafia dan jaringan kroni Golkar dan kaum anti Islam melalui siasat kampanye tim sukses mereka? Saya kira, masalah Pilpres, tidak bisa disederhanakan dalam figur JK-Wiranto saja. Ini kalau kita menyepakati Golkar lebih bahaya dari Demokrat. Demokrat relatif jauh lebih rapuh, tidak memiliki basis massa yang permanen serta hanya bergantung pada figur SBY yang sudah pasti berakhir di 2014. Demokrat tak punya basis memadai untuk menjadi kekuatan besar dan tahan lama. Demokrat hingga kini tidak punya faktor yang diandalkan selain SBY bukan?

Keenam, bisa jadi JK lebih saleh, namun nyatanya ia memiliki satu kekurangan yang cukup fatal. Dia seorang yang lemah di tubuh Golkar sendiri. Dalam Pemilu kemarin, banyak suara yang menolak JK. Dalam Golkar sampai ada empat blok, selain JK, ada Sri Sultan, Akbar Tandjung dan Fadel Muhammad. Tiga orang ini sama-sama memiliki basis massa yang kuat dan mencoba langkah-langkah politik sendiri. Terlebih lagi, Akbar Tandjung berhasil mengumpulkan banyak wakil dari daerah dalam Mukernas Golkar dan mengajak boikot JK. Di koran Tempo diserukan agar JK berintrospeksi karena tidak mampu menjaga keutuhan Golkar. Golkar, diambang perpecahan serius dimasa kepemimpinan JK. Kondisi ini sangat berbahaya. Ternyata JK tidak mampu mengendalikan partainya. Kalau JK setuju Golkar melakukan konvensi capres seperti di tahun 2004, bisa jadi dia tidak terpilih sebagai capres karena sekarangpun dukungan atas pencapresan JK dilakukan sangat terakhir. Kelemahan JK ini akan mengakibatkan orang-orang partainya bertindak semau gue dalam menjalankan pemerintahan nanti. Maka koalisi dengan JK menjadi langkah yang sangat rawan karena kelemahan JK

mengendalikan partainya. Dan kedepan, figur-figur selain JK akan menunggu untuk hadir di 2014. Ini berbeda dalam kasus Demokrat dan SBY.

Ketujuh, berbicara tentang klenik, saya kira Golkar sendiri tidak bersih dari klenik. Kita tahu, tokoh kunci Golkar yaitu Sri Sultan, mengkondisikan masyarakatnya melalui agenda keraton yang berkutat dengan kultur klenik dan khurafat yang dipelihara sistematis dan mengakar, bahkan menjadi cagar budaya. Di Batam, caleg-caleg nomor-jadi Golkar diisi orang-orang Kristen. Di Sumedang, ada caleg provinsi dari Golkar nomer jadi beragama Kristen yang dimana-mana menggunakan tambahan H didepannya supaya dikesankan Haji. Maka, kalau bisa, untuk mendukung atau menolak seorang pemimpin, sebaiknya tidak didasari oleh secuil kasus A disini dan fakta B disana sehingga yang muncul adalah fragmen yang tidak utuh karena fakta negatif bisa ada dimanapun. Kita membutuhkan informasi yang lengkap dan komprehensif.

Kedelapan, persoalannya bukan terletak pada berubah-ubahnya fatwa dan zig-zagnya suatu langkah politik. Persoalannya adalah, manakah keputusan yang benar? Langkah politik yang lempang tapi salah, tentu tidak kita inginkan. Para ulama menyepakati kaedah perubahan fatwa mengikuti

perubahan kondisi dan sebabnya.. Zig-zag dan berubah-ubah itu tidak mengapa, asalkan itu benar. Perubahan strategi politik antara 2004

dan 2009 itu tidak mengapa jika memang itu benar dan dibutuhkan. Strategi politik tahun 2004, bukanlah seperti wahyu yang tidak boleh

diubah. Saya yakin, di tahun 2014 nanti juga akan terjadi perubahan-perubahan strategi…

Masih banyak lagi alasan yang bisa diberikan mengenai mengapa tidak memilih JK. Diantaranya adalah SBY telah bersedia menerima kontrak politik

yang berisi agenda-agenda dakwah seperti masalah pembebasan Palestina dan lain-lain. Memang, kelemahan-kelemahan ini sebagian juga ada di

SBY. Namun di beberapa poin, SBY tidak seberat JK dengan Golkarnya.

Bagaimanapun SBY lebih aman dan menguntungkan untuk dipilih. Golkar memiliki tingkat bahaya yang lebih permanen dibanding Demokrat.

Meski begitu, harus diakui PKS juga punya kesalahan dan kelemahan. Selain itu, ada juga masalah teknis dan komunikasi. Makanya, saya tidak terkejut mendapati orang bingung melihat PKS masih di jalur dakwah atau bukan. Wajar, karena PKS bukan kumpulan malaikat dan nabi. Mereka adalah manusia-manusia. Adalah tidak manusiawi, jika kita tidak mau memahami kesalahan PKS. Namun, selama partai ini masih memelihara ribuan halaqah yang merumuskan dan merealisasikan berbagai agenda dakwah dan tarbawi, lebih dari satu juta kader terbina, ada agenda tatsqif, mabit dan katibah, punya Majlis Syura dan Dewan Syariah, struktur dakwah dan jamaahnya masih solid, tidak pecah dan terus bekerja, masih gegap memekikkan kata jihad, takbir dan kematian syahid, masih menangis dalam shalat malam berjamaah dan merasakan penderitaan rakyat Palestina, saya meyakini PKS tetap satu-satunya partai dakwah yang paling relevan di Indonesia . Kecuali, kalau itu semua sudah bubar dan tinggal kegiatan politiknya saja.

William Lidle, seorang Yahudi ahli Indonesia mengatakan di Metro-TV PKS adalah kekuatan Islam paling berbahaya. Baru-baru ini, terbit sebuah buku “Ilusi Negara Islam” oleh LibForAll. Disana ada Gus Dur, Musthafa Bishri dan Syafii Maarif. Isinya sangat menyudutkan PKS sebagai kaum ekstrim yang membahayakan NKRI. Di Singapore, Taufik Kiemas menyebut PKS sebagai metamorfosa kaum teroris menjadi partai yang legal. Belum lagi isu Wahabi, GAM dan lain-lain yang ditujukan pada PKS. Kaum anti Islam sedang panik melihat perkembangan Islam melalui PKS. Mereka takut fenomena Turki,

Mesir dan Palestina terjadi di Indonesia . Mereka jauh lebih takut PKS dibanding HTI, FPI, Salafy atau Majelis Mujahidin. Kenapa justru kita sebagai orang yang sadar dengan Islam malah hendak menyerang PKS?

Sudah cukup rasanya umat Islam merasakan perihnya perpecahan, kelemahan dan dikerjain orang lain. Biarlah kader-kader PKS lebih memilih suara

qiyadah dan syura mereka. Janganlah kita menambah lebih banyak lagi syubhat dan kebingungan sehingga menyebabkan perpecahan dan kelemahan.

Semoga Allah melimpahi kita dan para pemimpin Islam dengan hidayah dan rahmat. Semoga Allah memelihara langkah kita dalam istiqamah. Amin.

Wallah A’lam bis-Shawab. Wassalamualaikum

Mohon disebarkan dengan teman2 lain ……

Itulah isi email yang beredar, tanpa di kurangi sedikitpun.

Tanpaknya, menjelang pemilu, suasananya makin memanas.

Dan pada akhirnya, biarlah rakyat yang memilih. Dan semoga yang terbaiklah yang menang.

21 Comments


  1. // Reply

    apapun itu saya tidak bisa mengikuti langkah PKS,saya hanya percaya pada kata hatiku saya, JK-WIN


  2. // Reply

    Manusia tidak ada yang sempurna, Saya hanya percaya pada hati nurani saja


  3. // Reply

    Ass. Wr. Wb.
    Salut dgn tulisannya skrng sebagai kader PKS ana sudah mulai sadar. Yg tadinya melihat istrinya JK-WIN pakai jilbab dan terlihat Islami Ana terpengaruh. Insya Allah sekarang tetap SBY-BUD. Wassalam


  4. // Reply

    PKS bukan khalifah,…tidak ada kewajiban untuk tunduk patuh. Ttg pertanyaan “apakah kita bisa menyamai pemikiran 99 org majelis syuro?” tentu BISA !!!Allah tidak hanya menurunkan hidayah kepada 99 org tsb. Bisa sj ilmu yg lebih luas diturunkan kepada seseorang,..dan ego2 99 org tentu lebih besar dibanding ego seseorang. Selain itu, pertanyaan tsb bisa diartikan sbg berikut,…”semua muslim di indonesia harus tunduk kepada 99 org, krn hanya mereka yg memiliki ilmu dan hidayah”…non-sense !!


  5. // Reply

    memang susah kalau pilihannya hanya satu LANJUTKAN, tanpa boleh menolak, menentang, bahkan tak sepaham…:D

    kader PKS terlalu fanatik buta, bahkan meski banyak yang merasa ndak sesuai dengan hati nuraninya…


  6. // Reply

    Ini juga dari milis IHRIS

    Assalamu’alaikum. .

    Hmm..sebenernya bantahan terhadap kecendrungan memilih SBY dan keberpihakan untuk memilih JK bisa dibaca di majalah sabili yang terbit awal juli. Disana ada wawancara dengan Kyai Cholil Ridwan,Lc (Ketua MUI dan DDII). Bahasan lain yang penting mengenai pilpres juga bisa dibaca di edisi tersebut (termasuk masalah klenik dll).

    Terkait point2 yan disebutkan :

    1. Pertama tentang dominasi partai islam yang memihak SBY sehingga seakan SBY lebih mewakili ummat, maka hal ini jelas terbantah. Karena justeru ormas2 islam berada di belakang JK. Terlebih secara umum diketahui bahwa keberpihakan partai2 itupun tidak terintegrasi dari atas sampai bawah. Banyak midle manager dari partai2 itu yang berfikiran lain, yaitu memihak JK. Mana yang lebih mewakili akar rumput umat islam,ormas atau partai?

    2. Tentang kasus JK dan playboy serta masalah keberpihakan JK pada syariat islam. Hmm..OK..itu ucapan JK yang memang ceplas-ceplos. Point ini sangat bernuansa ‘mengorek’.. dan saya lihat PKS sekarang mulai melakukan praktik ‘mengorek’ ini, mulai dari kasus playboy, juga ketika beliau mengingatkan masalah cek identitas di pesantren.

    Ingat..kita tidak menganggap JK ideal..kita dalam jalur..”mana yang lebih baik diantara dua pilihan tidak ideal ini”. Nah..yang tadi2 itu coba.. bandingkan dengan penegasan seorang SBY tentang Poligami..ini bukan ceplas-ceplos tapi pernyataan kepresidenan yang diucapkan secara formal di layar televisi. Kyai Cholil Ridwan ungkapkan ini dalam wwancaranya di majalah SABILI, dari sini terlihat SBY atau ‘pembisik’ dibelakangnya’ yang punya agenda besar menolak syariat islam..dan saat itu ada momentum untuk memojokan salah satu bentuk syariat yang sering dipermasalahkan di masyarakat yaitu poligami. Silahkan baca lengkap ulasan tentang agenda liberalisasi melalui pilpres ini.

    Ketiga, betul sekali hasil syura tentu lebih baik dengan perhitungan pribadi. Namun tentu kita tidak boleh sempit melihat bahwa yang syura hanyalah PKS, bukankalh ormas2 islam pun punya mekanisme syura. Muhammadiyah, Hidayatullah, juga Wahdah Islamiyah (diantara ormas yang lebih memilih JK) punya mekanisme syura, sehingga keberpihakan mereka juga adalah hasil syura.

    Bahkan, sepengetahuan umum, keputusan PKS itu lebih berat pada pertemuan 6 mata antara SBY,Presiden PKS, dan ketua Dewan Syura. Dimana ketika awal pertemuan pihak PKS justeru datang dengan keraguan (terutama tentang Boediono), lalu setelah itu sepakat dan mendukung. Dalam mekanisme syura..keterbukaan perlu diperhatikan sehingga para anggota memahami alasan2 yang dijadikan landasan. Nah..alasan apa yang terjadi dalam pertemua beberapa jam sebelum deklarasi itu? apa perubahan dalam pertemuan itu dihadiri / disepakati oleh seluruh anggota dewan syura ? (hmm..meskipun tentu dua orang ini boleh mengambil keputusan..hanya point ini untuk meminimalisir efek ’99 orang’ yang tentu bernuansa meyakinkan sehingga kita lupa content dan hystory nya).

    kelima, tentang dua kriteria pemimpin dan juga prioritas dari dua hal tersebut. ya..pemimpin harusnya saleh dan juga pandai strategi (kemampuan memimpin). Sy lihat ungkapan penulis justeru mengarahkan kita milih JK. Kenapa ?

    begini.. betul sekali bahwa dalam memilih pemimpin prioritas kepiawaian dalam bidang kepemimpinan lebih penting dari keshalehan pribadinya (selama tidak non muslim tentunya). Nah..dalam uraian, seakan penulis menguatkan pendapat mayoritas umum masyarakat bahwa JK lebih sholeh, dan pendapat ini banyak yang menyetujui (termasuk penulis dan umumnya kader PKS, apalagi kalau cawapres juga dihitung).

    Itu tentang kesalehan lalu tentang kepiawaian bagaimana ? kayanya tidak ada kepastian jelas (baik pemahaman umum masyarakat atau kesepakatan para pengamat) mana yang lebih piawai memimpin ? Apa JK lebih parah dari sisi strategi kepemimpinan? sy fikir tidak ada yang dengan yakin menjawab Ya atas pertanyaan ini, termasuk para kader PKS sendiri. Terlebih melihat bagaimana beliau meredam tribulasi internal golkar (dimana pemainnya tentu lebih ahli) dibandingkan ketidakmampuan SBY menertibkan anak buahnya di Demokrat (yang padahal notabene tidak ‘selincah’ kader2 golkar).Juga bagaimana beliau memimpin penyelesaian beberapa pemulihan bencana.

    Tp okelah kt tidak berdebat dalam hal ini, setidaknya dalam point kedua ini SBY dan JK pada posisi imbang..

    Jadi kita tidak pada posisi pilihan yang satu unggul di satu hal lalu yang satu unggul di hal yang lain dimana hal lain itu lebih prioritas. TAPI kita pada posisi yang satu lebih unggul ( wa laa nuzakki ‘allallahi ahadan wallahu haasibuhuma, kita tidak mensucikan seseorang didepan Allah, Allah-lah yang menghisab mereka berdua) dari sisi kesalehan dan untuk sisi lain keduanya masih beimbang.

    Kalau diidentikan dengan point dalam sepakbola maka yang satu pointnya 4 (1 menang satu SERI), yang satu pointnya 1(1 kalah 1 seri).

    Kelima, tentang organisasi Golkal yang ada dibelakang JK.
    Hmm..lalu siapa yang ada dibelakang SBY? Pada saat ini begitu jelas bahwa agen2 liberal (khususnya Jaringan Islam Liberal) ada dibelakang SBY. Maaf mereka bukan dibelakang.. tp mungkin disamping, karena mereka bukan dalam posisi ‘numpang’ seperti partai islam lainnya, tp mereka justeru penasehat kepercayaan SBY. Pada liberal ini terkumpul dua hal yaitu keinginan yang sangat buruk dan kedua kemampuan/kelihaian untuk melaksanakan itu. Hal ini membuat berkoalisi dengannya lebih berbahaya dari pada berkoalisi dengan orang yang mungki punya keinginan buruk tp ia dalam posisi yang lemah untuk merealisasikan keinginan tersebut. yang ideal tentu tidak berkoalisi dengan yang punya keinginan (track record idealisme) buruk. Tapi kembali..kita memang tidak dalam posisi memilih yang ideal..kita dlm posisi ‘memilih yang lebih kecil mudharatnya’ .

    Lalu tentang buruknya Golkar, bukankah golkar = suharto? lalu kenapa point ini muncul dari pihak PKS padahal mereka mengangkat suharto sebagai pahlawan dalam iklan mereka baru2 lalu ? Tp mungkin saja ini strategi politis yang tidak kesampaian oleh logika sederhana sy.

    Keenam, khusus point ini terus terang saya lihat penulis mulai kehilangan konsentrasi. Apa hubungannya JK lebih saleh dengan posisinya yang lemah di golkar. Jadi pertama..point keenam ini sebenernya lemah dari sisi logika mengambil kesimpulan juga agak bertentangan dengan point kelima. kalau memang (menurut) point kelima Golkar bermasalah.. bukankah. . banyaknya protes kepada JK sebagai pimpinan Golkar menunjukkan ada hal baru yang dibawa JK pada kendaraan besar tersebut, namun tentu pembicaraan tentang ini tidak penting.
    Artinya dominasi JK di golkar besar atau tidak sebenernya hanya menjadi pertimbangan kalau kita berfikir dengan ‘otak’ oportunis dimana kesempatan menang atau membonceng yang menang adalah salah satu tujuan (tanpa peduli siapa yang juga dibonceng oleh pemenang itu, bahkan rekan seboncengan itu dibonceng di bangku depan atau terkadang menduduki posisi supir).
    Overall, sementara ini JK mampu menggerakkan mesin politik Golkarnya, Yuddi Chrisnandi yang awalnya bersebrangan (dan mewakili keinginan generasi muda golkar) bisa dirangkul bersama. Ya memang Om Ical selalu menggoyang tp tentu kita tahu jelas benang merahnya, karena memang dia sendiri yang biayai freedom Isntitute (yang setali tiga uang dengan Fox Institute, yang merupakan tink tank nya tim sukses SBY) dan lembagai ini pun sangat kental diisi oleh pemkir muda liberal seperti Ulil Abshar Abdalla cs.

    Ketujuh, tentang klenik. Point ini kayanya udah beres dengan pemahaman bersama secara umum bahwa JK (apalagi ditambah Win) lebih saleh dari SBY (apalagi ditambah Boediono). Meskipun kembali itu adalah pendapat umum kita yang ada di masyarakat (tentu termasuk kader dan juga petinggi PKS, bahkan majelis Syura PKS, bukankah PKS sempat berpaling kepada JK-WIn dengan alasan lebih islami dan mewakili ummat dari pada SBY Boediono? nah pertemua 6 mata yang membalikkan pemahaman inilah yang td saya singgung dalam point tentang syura), kita tidak tahu keadaan hakikinya hanya Allahlah yang menghisab mereka berdua (dan kita semua).

    Kedelapan,Ya betul sekali zig-zag keputusan karena bertambahnya ilmu dan pertimbangan syar’i tentunya sangat dibolehkan. Ulama kita pun ada istilah pendapat lama dan pendapat baru. Bahkan diantara kaidah yang sering disebut para ulama kita ‘al ibratu bi husnin nihayah la bi naqshil bidayah’ (penilaian adalah pada kebaikan di akhir bukan pada kekurangan yang terjadi di awal).
    Alhamdulillah masih ada waktu untuk kembali berubah..kita menunggu manuver selanjutnya demi kebaikan bersama, semoga manuver yang terakhir adalah manuver yang tepat..karena yang menentukan adalah yang diakhir.

    Wallahua’lam.
    topan setiadipura


  7. // Reply

    Berikut pendapat yang saya berikan kepada beberapa kader dan simpatisan PKS, yang menanyakan ketidak sesuaian keputusan syuro/pimpinan partai terhadap kata hati mereka.

    Fungsi syuro akan terlaksana baik apabila terpenuhi 3 syarat yakni:

    1. Tersedianya sumber-sumber informasi yang cukup untuk menjamin bahwa keputusan yang kita ambil dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
    2. Tingkat kedalaman ilmu pengetahuan yang memadai harus dimiliki setiap peserta syuro.
    3. Adanya tradisi ilmiah dalam perbedaan pendapat yang menjamin keragaman pendapat yang terjadi dalam syuro dapat terkelola dengan baik.

    Berikut analisa pribadi saya dan evaluasi terhadap hasil keputusan syuro / dewan pembina partai, pada kenyataannya tidak sesuai dengan kata hati sebagian kader/anggota partai.

    Kemungkinan kekeliruan itu tentu bukan terjadi karena point 2 dan point 3
    sehingga penyebabnya adalah tidak terpenuhi syarat point 1, tidak terpenuhi sumber-sumber informasi yang cukup. Tidak terjadi pembanding yang fair antara pa SBY dan Pa JK (tentu pilihan bu Megawati secara wajar dieliminir oleh partai dakwah). Sesuai ungkapan tak kenal maka tak sayang. Juga tidak menghilangkan kemungkinan “penghilangan” sumber informasi untuk suatu “pesanan”/”kepentingan” atau juga ada langkah “pencitraan” yang keliru.

    Sebagaimana yang saya ungkapkan dibeberapa kesempatan, saya contohkan bagaimana membandingkan sumber-sumber informasi sangat sederhana untuk pengambilan keputusan dalam mengikuti pilpres nanti.
    Pembanding ini dilakukan dengan sangat fair, menurut istilah yang kita kenal “apel to apel”

    Pilihan yang tersedia sekarang menjadi lebih sederhana adalah,
    2. Susilo B Yudoyono / Boediono
    3. M Jusuf Kalla / Wiranto

    Sesuai di tulisan saya di,
    http://mutiarazuhud.wordpress.com/2009/05/19/seruan-umat-islam/

    Hal yang harus diperhatikan dalam memilih pemimpin sebaiknya berdasarkan ketaqwaannya kepada Allah SWT.
    Ketaqwaan dapat dilihat dari hasil / perbuatan sang pemimpin apakah sesuai dengan perintah Allah SWT.

    Sekarang secara sederhana kita memperhatikan bentuk ketaqwaan pa SBY dan pa JK,

    Pada saat deklrasi, pa SBY sebagai pemimpin menyetujui menghambur-hamburkan uang untuk untuk sekedar acara deklarasi sedangkan pa JK menyetujui mengeluarkan uang sebaik mungkin. Ternyata kebijakan beliau dalam pembiayaan acara deklarasi paling rendah dibandingkan calon pemimpin lainnya.

    Firman Allah,
    “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS Al Isra’ : 27)
    “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu)” (QS. At-Takatsur:1-3)

    Pada saat deklarasi, pa SBY sebagai pemimpin menyetujui format acara meniru/meneladani kaum Amerika. Sedangkan pa JK sebagai pemimpin meniru keadaan yang dirahmati Allah SWT yakni proklamasi kemerdekaan dahulu.

    Firman Allah, “Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah.” (Ar-Ra’d: 36-37).

    Sebagaimana yang telah ditetapkan dalam syariat bahwa tidak boleh bagi muslim atau muslimah untuk ber-tasyabbuh (meniru) orang kafir baik dalam perkara ibadah, hari raya atau tasyabbuh dalam penampilan.

    Kita berlindung diri kepada Allah swt dari sikap mengindahkan kata hati nurani dan akal sehat, karena dikalahkan oleh nafsu syahwat. Dan sekaligus kita berdo’a agar kita dikaruniai iman dan aqidah yang kokoh sehingga melahirkan mental yang sehat dan hati yang waras –qalbun salim-. Tentunya dengan usaha keras kita menggapai hidayah-Nya

    Dalam rangka “tak kenal maka tak sayang” dan sekaligus bertujuan agar tidak terjadi salah memilih pemimpin negeri. Alih-alih mengharapkan / memaksakan untuk 1 kali putaran untuk menghemat “uang rakyat” sebesar 4 trilyun, namun sebuah kekeliruan bisa berakibat kerugian “uang rakyat” ratusan trilyun rupiah dalam 5 tahun kedepan. Menurut saya kampanye ini , benar-benar “membodohkan” rakyat. Sayangnya pemimpin membiarkan itu terus berlangsung.
    Untuk mengenalkan sosok sesungguhnya pa JK dan menangkal pencitraan yang salah yang dilakukan beberapa pihak, maka saya muat tulisan di blog saya mutiarazuhud.wordpress.com.
    Selamat mengetahui kebenaran.



  8. // Reply

    Assalamu’alaikum wr.wb
    yg dinilai PKS hanya JK saja. tdk tertutup kemungkinan SBY bisa lebih ganas namun terlalu lembut. ingat :
    1.Demokrat telah nyata-2 menghina ALLAH dengan memberikan porsi 1% secara terang-2an didepan TV atas kemenangan PD.
    2. PKS sengaja diberikan waktu yg mepet utk menentukan pilihan koalisi
    3. Komitmen SBY soal Palestina tdk ada..beliau pernah mengatakan bhw Palestina-Israel hanyalah perang antar negara..pdhal kita tahu Israel ingin melenyapkan Palestina secara khusus dan Islam secara umum.
    4. jelas-2 petinggi PD telah melecehkan HNW dengan mengatakan:” bisa apa HNW”.
    5. PKS mbok ya punya harga dirilah..Kami dan keluarga dapat dipastikan memilih JK-W
    6. PKS terlalu NEGATIF THINKING thd JK-W saya ingin tanya pernahkah SBY komit untuk memperjuangkan ISLAM..sama sekali tidak…saya sarankan PKS utk membebaskan konstituennya utk memilih….ingat jangan terkecoh dengan gaya santunnya SBY..ingat siapa yg membentuk DENSUS 88…SBY tidak pernah membuat statement yg ingin lepas dari kukungan AS-YAHUDI….mudah-2an PKS SADAR…


  9. // Reply

    Assalaamu’alaikum wr.wb.
    Saya menghimbau kepada teman-2 PKS ….marilah kita rame-2 mengikuti langkah FPI,Muhammadiyah dan juga NU yg terang-2an mendukung P. JK-W….saya dan keluarga yg jadi konstituen PKS sangat kecewa dg keputusan PKS utk mendukung SBY…alasannya Beliau orang Golkar yg tidak konsisten dan orang orde baru…saya kira itu penilaian yg terlalu dangkal….lha Demokrat itu orang apa…wong disitu ada Hayono Isman yg dulunya orang Golkar….yg jelas SBY ini orang yg tidak bisa melepaskan diri dari AS-Yahudi…sehingga ekonomi kita tidak bisa mandiri….dengan mengucapkan Bismillah warga PKS siap memilih JK-W…iNSYA ALLAH MENANG


  10. // Reply

    Assalamu’alaikum wr wb. Untuk Mas Brahmana Apapun yg anda katakan tidak akan melemahkan pendirian kader-2 PKS. PKS adalah partai dakwah dan dakwah harus dilakukan pada semua umat bukan orang muslim saja dan kader-2 PKS sangat patuh dengan pemimpinnya. Bagaimana saya yang pemimpin lokal mau dihargai oleh kader saya sementara saya tdk menghargai imam yg ada diatas saya?. Mas brahmana yg Insya Allah dirahmati Allah, memang memilih diantara dua yg baik itu menyulitkan namun pilihan terbaik adalah SBY-Budiono dan ini sudah disampaikan oleh bayan (pesan) majelis syuro. Anda kalau mau belajar tentang PKS buka saja website tentang PKS saya kira web terbanyak dari semua partai. PKS bukan seperti PAN, PPP, PKB. PKS adalah PKS buka saja webnya.
    wassalam.


  11. // Reply

    Assalamualikum. Maaf sebelumnya… membaca tulisan anda, tentang pernyataan JK dan Majalah Playboy, saya langsung cari di Google, dari berbagai media yang saya baca, saya ambil kesimpulan bahwa Justru JK lah yang berusaha menjerat majalah playboy ke ranah hukum, tetapi tak ada Aturan Jelas berupa undang-undang yang mendukung untuk menjerat majalah playboy ke ranah hukum, dan dari itu maka JK secara tidak langsung meminta kepada DPR agar UU anti pornografi dan pornoaksi segera disyahkan oleh DPR. Cuma JK yang berkomentar masalah Playboy, dan saya belum menemukan komentar SBY.


  12. // Reply

    LANJUTKAN….LANJUTKAN…….LANJUTKAN………

    Dukung terus CAPRES dan CAWAPRES yang dibeking oleh agen-agen liberal dan YAHUDI…. saat ini tidak sedikit negeri ini yang dikuasai Yahudi… tahun 2014 mungkin sebagian besar bumi ini milik orang2 yahudi dan tahun 20… bangsa ini menjadi bangsa YAHUDI…….

    ingat saudara2… bumi ini bukan milik kita melainkan kita meminjam dari anak cucu kita, untuk itu peliharalah bumi dan kekayaan negeri ini, jangan sampai dikuasai oleh orang2 YAHUDI….

    Orang TOLOL yang mengatakan GOLKAR DAN PDIP lebih berbaya dari PARTAI DEMOKRAT (SBY), sekarang GOLKAR dan PDIP dijatuhkan pada Pemilu 9 April 2009 karena ada unsur kesengajaan karena GOLKAR dan PDIP komitmen dengan NKRI. apakah anda tidak tahu siapa dibelakang PARTAI DEMOKRAT (SBY), PARTAI DEMOKRAT diakhir zaman nanti merupakan PARTAINYA DAJJAL, karena itu hai kader2 PKS takutlah kepada Allah, sesungguhnya siksa Allah amatlah Pedih….


  13. // Reply

    cukup sudah pilih PKS 2 pemilu,,
    Siapa memanfaatkan siapa, PKS sudah kemakan intelejennya SBY… PKS tinggal kader2 butanya yg salah bener adalah partai saya….
    Pengurus demokrat adalah sisa2 orde baru yg loncat dari partai2 yg ada…
    kasian PKS…


  14. // Reply

    Saya orang awam mau nimbrung sedikit soal politik. Dari banyak uraian dan comment di atas saya cukup salut. Tapi disayangkan rakyat indonesia yang melek hukum seperti anda2 di atas sangat sedikit, kurang dari 2%, dan selebihnya hanya orang awam yang mengenal politik dari layar TV. Mereka melihat prabowo yang selalu menghina pemerintahan SBY tanpa tedeng aling2 yang malah membuat rakyat semakin benci, Mega yang terlihat canggung didepan publik yang kata2nya mbolak mbalik, JK yang selengehan dan ngobral janji yang tidak masuk nalar(MAMPU)/dalam debat capres JK akan pulang kampung jika kalah yang pastinya melemahkan dukungan rakyat (tidak berjiwa besar), sementara rakyat Indonesia melihat SBY yang arif, bijaksana,santun, berwibawa, sabar dll. Rakyat tidak paham Neolib atau istilah2 asing lainnya. Maklum banyak yang lulusan SMA, jadi cara2nya juga kurang cerdas dan berpendidikan.

    Mungkin rakyat yang mayoritas bodoh politik, memilih dengan cara bodoh (hati nurani)


  15. // Reply

    Mengapa SBY paling miskin ?
    Seorang penganut Neolib kok miskin ?

    Budiono juga tu, kenapa kalah sama mega kamu ? Penganut Neolib kok miskin ?


  16. // Reply

    Saya orang awam mau nimbrung sedikit soal politik. Dari banyak uraian dan comment di atas saya cukup salut. Tapi disayangkan rakyat indonesia yang melek hukum seperti anda2 di atas sangat sedikit, kurang dari 2%, dan selebihnya hanya orang awam yang mengenal politik dari layar TV. Mereka melihat prabowo yang selalu menghina pemerintahan SBY dengan kata2 yang tak berpendidikan, Mega yang terlihat canggung didepan publik yang kata2nya mbolak mbalik, JK yang selengehan dan suka ngobral janji (MAMPU) yang tidak masuk nalar/dalam debat capres JK akan pulang kampung jika kalah, apa itu jiwa seorang pemimpin, sementara rakyat Indonesia melihat SBY yang santun, berwibawa, sabar dll. Mungkin rakyat yang mayoritas bodoh politik, memilih dengan cara bodoh (hati nurani) maklum pada lulusan SMA.

    Rakyat mempertanyakan pendidikan Mega dan JK …


  17. // Reply

    Sebagai kader yg setia dgn PKS..bismillah..saya ikut keputusan majlis syuro..


  18. // Reply

    Betul kan rekan2 semua hasil quick count SBY mutlak paling unggul. Betul kan comment saya diatas. Seharusnya capres megapro dan JKwir mulai belajar psikologi rakyat, apa yang disukai dan dibenci rakyat.

    SBY semakin dihina semakin berubah jadi emas.


  19. // Reply

    gampang2an aja kita pilih JK, Ahli ?.. JK orangnya, soleh ?.. JK orangnya. Namun rakyat sudah memilih SBY (neolib), mudah2an SBY tidak menggadaikan bangsa ini. Sekarang kembali kita berharab PKS dapat melindungi umat islam dan bangsa Indonesia. Apaboleh buat.

Leave a Reply